Netizen Tukang Bully

Oke, sesuai judulnya kali ini saya mau bahas soal netizen.

Netizen itu apa sih? Internet citizen alias masyarakat internet, berarti semua pengguna internet di dunia. Wuih, keren ya pasti rame banget itu. Ya, rame, saking ramenya, segala hal dikomentarin, baik yang penting maupun yang nggak penting. Dari semua jenis komentar, yang cukup menyita perhatian saya adalah soal bully-membully, terutama kalau ada yang bikin statement “nyeleneh” yang tak jarang dianggap bodoh oleh para netizen.

Misalkan ada yang bikin statement “bodoh” itu tadi, kira-kira apa yang bakal terjadi? Seperti yang kita tahu, pasti dibully, walaupun kenal juga nggak. Bully saja dulu. Setelah dibully lalu apa yang terjadi? Tentu saja adu argumen berujung kata-kata kasar ala kebun binatang.

Muncul pertanyaan, apakah memang seharusnya begitu? Etis nggak sih yang kayak begitu sebenarnya? Menurut hemat saya sih nggak ya. Beda pendapat itu biasa banget kok. Nabi saja mengajarkan supaya jangan kasar kepada sesama manusia. Ya, walaupun maksudnya cuma mau meluruskan tapi kalau caranya kasar ya siapa yang mau dengerin? Yang ada malah malas duluan. “Dih ini orang gini banget sih ngasih taunya..” kira-kira begitu.

Terus mesti bagaimana dong? Kalau nemu pernyataan aneh atau nyeleneh atau (maaf) bodoh ya sebaiknya kasih tahu baik-baik saja, kalau bisa lewat japri (jalur pribadi) misalnya WA. Minta orangnya untuk hapus postingannya, daripada jadi wadah caci-maki, iya kan? Kalau nggak kenal orangnya dan nggak punya japrinya bagaimana? Ya mending diam saja, berarti Anda nggak berhak komentar ini-itu soal dia. Saling kenal saja nggak, kan?

“Bicara yang baik atau diam”

Jadilah netizen yang baik, hindari bully-bullyan, nggak ada faedahnya.

Sekian.

Riding Bogor-Jakarta via Ciputat

Oke, pada artikel ini saya mau cerita sedikit tentang perjalanan saya dari Bogor ke Jakarta via Ciputat. Alasan kenapa lewat rute itu karena biasa lewat situ dan belum coba rute via Cibinong hehehe. Rute-nya kurang lebih seperti ini: Jl. Sholeh Iskandar – Parung – Sawangan – Ciputat – Jakarta. Simpel ya.

Pertama mulai dari Jl. Sholeh Iskandar, daerah yang sudah tidak asing bagi saya tentunya karena dekat rumah. Daerah sini juga mungkin banyak yang tahu ya, soalnya tol Sentul tembus ke jalan ini. Alhasil, tiap weekend jadi langganan macet. Dari sini kalau mau ke Parung tinggal lurus ke arah barat lalu di lampu merah dekat Lotte Mart ambil kanan. Di sini perlu sedikit hati-hati karena kontur jalanan yang tidak rata dan lampu merah yang biasanya mati kalau masih pagi buta.

Masuk daerah Kemang, Bogor (bukan yang di Jakarta Selatan), di sini ada beberapa SPBU jadi kalau mau isi bensin bisa di sini. Hati-hati dengan pengendara yang suka nyelonong karena di daerah ini banyak “puteran” atau U-turn. Lalu ke Parung, di sini perlu ekstra hati-hati sama yang namanya angkot. Serius, angkot di daerah ini sering nyebelin. Misalnya tiba-tiba pelan padahal itu jalur cepat. Beberapa kilometer ke depan, ada pasar. Di sini biasanya macet, lagi-lagi gara-gara angkot. Sabar aja, macetnya sebentar kok, hanya sekitar 5 menit saja.

Lurus lagi, masuk ke daerah Sawangan, Depok. Nah di sini kalau lagi sepi enak buat geber motor. Ingat ya, kalau lagi sepi. Di sini bisa 70 km/jam konstan, kalau lagi iseng bisa geber sampai 80 km/jam atau lebih. Jadi kalau lagi buru-buru, ngebutnya di sini aja. Hati-hati dengan speed trap atau polisi tidur yang kecil-kecil tapi ngagetin kalau nggak kelihatan. Satu lagi, tutup saluran air. Kalau ngebut wajib ambil jalur kanan karena di kiri banyak tutup saluran air yang menyembul.

Tripmeter sudah lebih dari 25 km berarti mulai masuk daerah Ciputat, Tangerang Selatan. Wih, keren ya bisa naik motor lewatin 3 propinsi: Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta. Di daerah ini kalau rush hour Senin pagi biasanya macet di sekitar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN). Lumayan panjang macetnya, kalau lagi parah bisa sepanjang 3 km. Jalanan macet begini yang perlu diwaspadai tentu saja waktu menyalip. Kemampuan mengukur celah dan decision making menjadi sangat penting. Inilah seni mengendarai motor, walau kadang ngeselin sih ya hehehe.

Masuk Pondok Pinang, biasanya di sini masih macet juga, maklum rush hour. Tidak terlalu panjang, cuma sampai lampu merah setelah halte busway. Di lampu merah, belok kanan, masuk ke Jl. R. A. Kartini. Di sini biasanya ramai lancar sampai lampu merah Pondok Indah. Lurus lagi, lalu bersiap-siap macet di lampu merah Fatmawati. Di sini panjang antreannya memang nggak wajar. Kalau lagi apes bisa kebagian merah lebih dari 2 kali. Bagaimana tidak, waktu hijaunya cuma 48 detik. Sebentar banget kalau dibanding merahnya yang lebih dari 100 detik.

Selanjutnya, macet lagi bro hehehe. Kali ini di daerah Cilandak Town Square (Citos). Tidak terlalu panjang tapi lumayan juga panasnya karena waktu sudah menunjukkan jam 7 pagi. Lanjut lagi lurus ke arah Kampung Rambutan. Selepas perempatan Ampera, macet lagi. Lewat “puteran” dekat lampu merah lalu macet lagi. Maklum Jakarta :p Setelah belok kiri akhirnya sampai juga ke daerah kostan. Fyuh, lumayan bikin berkeringat. Kalau dihitung-hitung jarak macet yang ditempuh hampir 10 km, wow panjang juga ya ternyata.

Sampai di kost, saya cek tripmeter untuk mengukur jarak perjalanan ternyata pas 45 km. Total waktu perjalanan 1 jam 50 menit. Padahal kalau nggak macet bisa kurang dari sejam lho :p

 

imagePas 45 km

Seru ya berkendara dari Bogor ke Jakarta, yang nggak seru cuma macetnya :)) Nggak apa-apa lah, cuma seminggu sekali ini hehehe.

Mau coba?

Ban Berminyak

Ah.. sudah lama tidak membuka blog ini. Sudah lumutan sepertinya.

Kali ini mau share pengalaman seputar ban motor. Jadi begini, beberapa hari lalu saya mengalami kejadian yang lumayan aneh (menurut saya). Waktu itu hari Sabtu sore, cuaca hujan, jalanan basah kuyup. Saya memacu motor di kecepatan sekitar 30-40 km/jam masuk ke tikungan parabolik. Tidak disangka-sangka, ban belakang sliding seperti mau jatuh. Kaget banget kan, padahal nggak ngebut. Ada apa ya?

Sekitar 10 menit kemudian, kejadian serupa terulang lagi. Kali ini di kecepatan sangat rendah, tapi masih sliding juga (??). Saya makin bertanya-tanya ada apa gerangan di ban motor saya. Keesokan harinya, saya coba cek ban motor.

Ternyata, ban belakang berminyak. Cuma bagian pinggir sih, tapi tetap saja bahaya. Pokoknya kalau di jalanan basah nggak bisa miring sedikit aja, bahaya soalnya. Langsung deh saya bersihkan minyaknya pakai tisu sampai kering. Kemudian sore harinya dibawa jalan lagi, dan lagi-lagi cuaca hujan. Tidak ada lagi gejala sliding di ban belakang, berarti benar gara-gara ban berminyak. Hadeuh. Saya heran juga itu minyak asalnya dari mana. Ada yang pernah mengalami seperti ini?

Cari Jalan

Oke, sesuai judulnya, kali ini saya mau cerita soal cari-cari jalan. Di mana? Di Jakarta. Sudah hampir 3 tahun wara-wiri di Jakarta, tentunya sudah sering kesana-kemari. Naik apa biasanya? Ya tergantung apa yang ada, kalau motor bisa dipakai ya naik motor, kalau enggak ya paling naik transajakarta, metromini, kopaja, mikrolet atau sejenisnya yang murah meriah. Ojek? Hampir enggak pernah, baru 2 kali. Taksi? Apalagi, enggak pernah (seriusan bro). Nah lalu apa tantangannya kalau jarang naik ojek dan taksi di Jakarta? Tentu saja: NYARI JALANNYA ITU LHO BRO.

Pertama, kalau pakai angkutan umum, gimana cara nyari jalannya? Yang perlu disiapkan: internet. Internet doang? Iya. Tentukan dulu mau naik apa, misalnya transjakarta. Download deh peta rute transjakarta, terus perhatikan halte-haltenya, cari yang terdekat. Nah dari situ googling lagi untuk mencari tahu angkutan umum apa yang bisa dinaiki untuk sampai tujuan. Catet deh, hapalin kalau perlu. Cukup simpel ya, biasanya saya pakai cara ini kalau ada internet. Kalau ga ada ya tanya-tanya orang aja. Tapi tanyanya lebih dari satu orang, bisa aja kan ada salah satu yang ngaco hehehe. Malu bertanya, sesat di jalan mana ini waduuuhh..

Nah kalau naik motor sendiri gimana? Senjata utama tentu saja Google Maps. Pakai street view kalau bisa. Di tiap persimpangan, buka street view nya, lihat patokannya, pilih belokannya, supaya nanti gak salah belok. Ini tantangannya kalau naik motor pakai navigasi, gak bisa sambil lihat hape, jadi ya mau nggak mau harus dihapal. Sebenarnya bisa juga sih pakai GPS yang pakai suara itu, didengerin pakai headset. Tapi kalau sinyal GPS bapuk kan ribet, nanti telat ngasih tahunya. Kalau misalnya lupa gimana? Perhatikan aja petunjuk jalan, pilih yang mengarah ke tujuan. Jadi, sebelumnya kita hapalkan dulu urutan titik-titiknya. Misal dari Ragunan mau ke PRJ. Pertama ke Wr. Buncit, terus ke Kuningan – Menteng – Monas – Gn Sahari – Angkasa – PRJ. Nah, titik-titik itu perlu dihapal sehingga kalaupun salah belok di tengah perjalanan, masih bisa kembali ke jalan yang benar (bukan tobat). Kalau masih lupa juga? Ya udah, tanya-tanya orang aja :)) Ribet sih, tapi seru hehe.

Kalau naik mobil? Ini lebih simpel, soalnya bisa kan tuh pasang GPS di dashboard, tinggal ikutin aja, ga perlu repot-repot ngapalin. Kalau misal ada problem, problem-nya sama seperti yang sudah dijelaskan tadi: sinyal GPS bapuk. Kalau sinyal hilang? Lagi-lagi pakai jurus pamungkas: tanya orang :))

Oke sekian aja tipsnya, semoga selamat sampai tujuan 🙂

What are the most common life mistakes young people make?

Answer by James Altucher:

Snoop Dogg says he wants to be CEO of Twitter. This sounds ridiculous but maybe it isn't.

I'll tell you why in a second.

But first: common life mistakes young people make:

– HAVE AN OPINION

What opinion can you possibly have? Global warming? Ok, good luck changing the world. War? Ok, good luck stopping the $200 billion defense lobbying industry from having war.

She/He should treat me better! Again…good luck.

People say to me, "if everyone thought like you then the world would be a mess."

Oh really? I have one word to say back (which breaks my later statement about defending myself).

"Manure"

4.5 million tons of manure were being dropped on the streets of Manhattan in 1890, EVERY YEAR, by horses carrying people to work.

That was the big environmental problem of the day. "NYC will be buried in horse manure by 1950!" screamed the headlines.

It doesn't matter what your opinion about this was. None of the people living in NY solved the problem despite the 1000s of opinions.

People with passion for mechanics in Detroit made something called a car.

Problem solved.

Do what YOU love to do today. Surrender to the results. The more you surrender, the more results there will be.

The way you solve the world's problems is to solve your problems. Then trust.

-THERE IS SOMETHING SPECIAL YOU ARE HERE TO DO

You realize there are 8.7 million different species on the planet. Do you think the trillions of members of all of them were put on this Earth with a special purpose? Like they have to be an opera singer. Or solve a hard math problem?

There's 1000 different species (species, not individual organisms, which are around 10,000,000) living on your body right now. 80 in your mouth. So you better shut up.

The last part of our body to evolve was our pre-frontal cortex, which allows us to adapt to different environments. No other species has one.

This let us move from hot Africa to cold Alaska and every place in between.
But it also is the part of our body that makes us think we have a special purpose.

Our own unique little, private purpose which will win us awards and acclaim and make us feel better.

We don't.

But I understand you feel that way if you are young.

So here's the solution and it works and can be applied at any age: get good at three or four or give things.

Then find the intersection.

Then become the best in the world at the intersection. That's how you can pretend to do your special purpose.

When I say "get good" it doesn't mean 10,000 hours of practice with intent.
Maybe it means 1000 hours. Or even less.

Then if you get good at 5 things you've now the only one in the world who has put 1000s of hours into the intersection.

Now you're the best in the world at that.

– TALKING

You really don't have to talk as much as you do.

The average human says 10,000 words a day. Maybe cut that in half. Or say nothing.

I tried saying nothing for a whole day the other day. It's hard. But it felt like magic when I finally spoke again. I valued every word that came out of my mouth.

But try to talk less when you're young and know nothing.

Like when you're 19 years old and you want to talk about the status of your relationship.

There is no status. You're 19.

Guess what. Even if you're 50 you don't need to talk about it. Treat the other person nice. Then your status will be good.

If you hit the person you are living with then your status won't be good.
Talking won't do anything.

This holds for most things.

Listen to me.

Or better yet, just listen.

-YOU HAVE NO CAREER

The average person has 14 careers. And that number is probably going up.

My careers have been: academia, computer programmer, writer, "web series creator", CEO of a web design company, day trader, hedge fund manager, writer about finance, venture capitalist, book writer, speaker, internet entrepreneur (made a website that got popular), deal maker, self-improvement blogger and book writer, podcaster, and a few more I'd rather not say because they are either horribly embarrassing or might get me into legal trouble.

Young people say, "I don't know what I want to do when I grow up." Or "I want to be a doctor".

These two statements have a 99% chance of being wrong.

I got an email a few weeks ago: "I'm a nurse and I have $210,000 in student loan debt and now I don't even want to be a nurse. What should I do?"

I don't know. You're probably screwed.

– I NEED X TO GET Y

"I need to look good (or have a good job), to meet a boyfriend/girlfriend."
"I need to have a million dollars before I can write a novel and relax".
"I need to go to travel the world to get life experience."
"I need to do what my parents say."
"I need to go to go a gym to get healthy".

Here's the reality that many people don't get.

There are many paths to that mysterious "Y". Don't assume you know what they are.

I told my daughter something the other day. I said, "you know that quote I always tell you?"

She said, "Ugh. 'There's always a good reason and a real reason'."

"Ok, I'm going to tell you another one.

'There's always a back door.' "

"What does that even mean," she said. We were walking around Washington Square Park. She was looking with envy at all the college students walking around. I think she wants to be one.

"It's ok if you don't know what it means," I said. "I can't explain it. Just don't assume the front door is the only way to enter something you want."

Right now Snoop Dogg is saying he wants to be the CEO of Twitter.

That's never going to happen. But he can say it can. And then maybe it will. Who knows?

I'm sure he's said 1000 ridiculous things in his life. And you know what? 1% of them have happened and have created an amazing life for him.

The rest of us don't say any of these ridiculous things. So nothing ridiculous and amazing happens to us.

– IF I DON'T DO THIS THEN BAD THINGS WILL HAPPEN

"If I don't go to college I can't get a job"
"If I don't get a house, I won't have roots. I'll waste money on rent."
"If I don't have money, I won't be able to buy anything. People won't like me."

Society is very powerful. We get 2500 media messages a day telling us our Dos and our Dont's.

All 2500 of those message are wrong. How do I know? Because people wouldn't have to pay to show you those messages if they are right.

They know the messages are wrong so they pay to put them in front of you.

If you believe the messages then you would think you can join the army, and either A) choose to go to war or B) go hiking and learn computer programming at the same time.

You can't.

(the real army)

Don't let the media messages program your brain.

Don't let the media messages predict the future. Because it's a fake future.

– YOU CAN'T LEAVE

Young people think they can't leave.

How many times did I spend an extra year in a relationship, or a city, or a job, or a school, because I was afraid to leave.

Afraid I had the power to truly hurt someone with my decision.

You can get up and leave right now if you are not happy or if you want to do something new.

– YOU HAVE TO DEFEND

In the next 60 years, a lot of people are going to hate you.

In fact, the more people you try to help, the more people will hate you. I don't know why this rule exists but it does.

For every ten people you help, one person will hate you. And you will want to defend, to explain, to argue, to respond back.

You can't change their mind. They are going to hate you no matter what. They are going to try and get in your head so you wake up thinking about them.

Delete them. Delete their comments, their emails, their connections to you, any contact you have with them. You can't change them. You can change YOU to not care.

The more haters you have, it means you will have 10 times the number of people who love you but are silent.

When they offend, don't defend.

Don't forget one thing:

You are the coach of your future self. You are the only coach of your future self.

Everything that happens in your future is a direct result of what you do today.

I've made a lot of money and lost it miserably and got scared and depressed and cheated and ran and hurt and cried and was suicidal.
 
None of that helped my future self.

Here's what did, when I was at my lowest and darkest moments. When I had the pills right in front of me. When my kids were asleep in their bedrooms and the night kept ticking away in my brain, refusing to let me sleep, refusing to stop my heart from racing in panic.

I took a walk every day.

I stopped dealing with the people who I felt bad around. This was very very painful to me. But better that then dying. Or defending.

 I spent more time with the people who I felt good to be around.

I started reading every day. Only 40% of people who graduate college ever read a book again. If you are in the 60% you are 1000x ahead of everyone else.

I started writing down 10 ideas a day. Then I started sending ideas to people, without expectation back, with the hopes that the ideas would help people.

I forced myself to practice being grateful for everything I had. Two arms. Two daughters. A friend. Then two friends. Then three.

The more grateful you are, the more you attract things to be grateful for.

And by doing so, all the mistakes I made in my youth started to change.

What are the most common life mistakes young people make?

Ide: Riset atau Ikut-ikutan?

Ah, sudah lama sekali tidak menulis di blog ini, hehehe. Kali ini mau bahas singkat saja tentang ide. Ide buat apaan nih? Kalau ide saja terlalu umum, jadi yang saya maksud ide di sini adalah ide membangun bisnis (atau startup, biar kerenan dikit gitu). Saya sendiri lebih suka istilah bisnis sih daripada startup. Kenapa? Nanti di artikel lain akan saya jelaskan. Kali ini fokus ke soal ide dulu saja.

Ada yang bilang ide itu murah.

Ada juga yang tidak setuju.

Yang benar yang mana?

Menurut saya relatif, tergantung idenya seperti apa. Murah tidaknya ide tergantung kejeniusan pencetusnya, dan juga WAKTU. Faktor terakhir ini yang sering dilupakan. Sebuah ide bisa “mahal” di suatu waktu, bisa juga “murah” di waktu lainnya. Makanya, kalau ada yang bilang “timing is a bit*h,” ini benar banget menurut saya. Nah itu tadi dua faktornya, selanjutnya tinggal bagaimana siasat sang pencetus ide agar ide briliannya tidak “diledek” oleh sang waktu.

Apa sih maksudnya “diledek” oleh waktu? Jadi begini, namanya ide bisnis pasti harus memperhitungkan calon konsumen perusahaan tersebut, dan juga pesaing tentunya. Supaya mudah dimengerti, saya buat gambaran sederhana dengan contoh ide membuat game. Misalnya tahun 2011 ada game berjudul X yang sangat booming hingga ke seluruh dunia. Ada sebuah startup yang terinspirasi lalu meniru membuat game yang serupa. Lalu kira-kira bagaimana? Berapa lama waktu yang diperlukan untuk membuat game sejenis dan sekaliber X tersebut? Katakan lah 2 tahun. Kalender sudah menunjukkan tahun 2013, masihkah game X dan sejenisnya digandrungi para gamer? Ternyata tidak. Kenyataan pahit harus diterima perusahaan startup tersebut karena 2 tahun terbuang. Yah, setidaknya tidak terbuang percuma karena startup tersebut dapat banyak ilmu dan pengalaman. Namun, kembali ke “ide” startup tersebut, berhasil atau tidak? Tidak. Antara karena telat memulai atau malas mencari ide lain. Nah dua alasan ini yang berkaitan erat dengan judul artikel ini.

Telat memulai

Kenapa bisa telat memulai? Karena ikut-ikutan atau eksekusinya keduluan pesaing? Inilah pentingnya riset. Budaya riset di Indonesia masih lemah sekali, makanya cenderung menjadi pengekor saja. Padahal kalau riset dilakukan secara serius, suatu perusahaan bisa memilih ide yang tepat untuk dieksekusi, kapan mulai dieksekusi, dan bagaimana cara mengeksekusinya. Bagaimana caranya riset? Banyak sekali, tak terhitung. Mulai dari yang sederhana: ngobrol dengan calon konsumen, warga sekitar, sampai yang rumit: menggunakan data kuantitatif dari berbagai sumber informasi.

Malas mencari ide lain

Ya, dengan kata lain: malas untuk riset. Entah karena dirasa membuang waktu, butuh banyak resource, atau memang malas saja. Jadinya “ikut-ikutan” ide orang lain yang sudah lebih dulu. Mengeksekusi ide orang lain dengan cara sendiri memang seringkali bisa mengalahkan pesaing yang sudah lebih dulu eksis. Tapi sekali lagi, ini relatif, kalau dijalankan dengan luar biasa sungguh-sungguh, bisa saja jadi market leader mengalahkan pesaing bahkan pencetus idenya (yang pertama kali membuat).

Hanya saja, perlu dilihat juga kondisi pesaingnya. Kalau skalanya sudah sangat besar plus modal miliaran dolar, perlu dipikir lagi (untuk jadi pesaing). Kalaupun jadi pesaingnya, tetap harus ada produk/layanan yang unik agar tidak dilindas “pemain besar”. Produk/layanan tersebut tentunya bisa dengan mudah ditiru oleh “pemain besar” tadi. Lalu bagaimana? Buat lagi produk/layanan baru. Begitu seterusnya, inovasi harus jalan terus. Kalau tidak, bakal ditinggalkan konsumen. Apa contoh nyatanya? Bisnis e-commerce.

Oke, jadi itu saja pembahasannya. Jadi, ide ini baiknya riset dahulu atau meniru yang sudah ada (ikut-ikutan)? Tergantung selera. Masing-masing punya risikonya sendiri-sendiri. Kalau riset dulu, butuh banyak resource dan juga ada unsur gambling karena intinya memprediksi ide apa yang kira-kira bagus di tahun tertentu, supaya tidak telat memulai. Kalau ikut-ikutan, risikonya “diledek” oleh waktu atau dilindas “pemain besar.” Kembali lagi ke karakter sang founder itu sendiri.

Sekian dan terima kasih 🙂