Ide: Riset atau Ikut-ikutan?

Ah, sudah lama sekali tidak menulis di blog ini, hehehe. Kali ini mau bahas singkat saja tentang ide. Ide buat apaan nih? Kalau ide saja terlalu umum, jadi yang saya maksud ide di sini adalah ide membangun bisnis (atau startup, biar kerenan dikit gitu). Saya sendiri lebih suka istilah bisnis sih daripada startup. Kenapa? Nanti di artikel lain akan saya jelaskan. Kali ini fokus ke soal ide dulu saja.

Ada yang bilang ide itu murah.

Ada juga yang tidak setuju.

Yang benar yang mana?

Menurut saya relatif, tergantung idenya seperti apa. Murah tidaknya ide tergantung kejeniusan pencetusnya, dan juga WAKTU. Faktor terakhir ini yang sering dilupakan. Sebuah ide bisa “mahal” di suatu waktu, bisa juga “murah” di waktu lainnya. Makanya, kalau ada yang bilang “timing is a bit*h,” ini benar banget menurut saya. Nah itu tadi dua faktornya, selanjutnya tinggal bagaimana siasat sang pencetus ide agar ide briliannya tidak “diledek” oleh sang waktu.

Apa sih maksudnya “diledek” oleh waktu? Jadi begini, namanya ide bisnis pasti harus memperhitungkan calon konsumen perusahaan tersebut, dan juga pesaing tentunya. Supaya mudah dimengerti, saya buat gambaran sederhana dengan contoh ide membuat game. Misalnya tahun 2011 ada game berjudul X yang sangat booming hingga ke seluruh dunia. Ada sebuah startup yang terinspirasi lalu meniru membuat game yang serupa. Lalu kira-kira bagaimana? Berapa lama waktu yang diperlukan untuk membuat game sejenis dan sekaliber X tersebut? Katakan lah 2 tahun. Kalender sudah menunjukkan tahun 2013, masihkah game X dan sejenisnya digandrungi para gamer? Ternyata tidak. Kenyataan pahit harus diterima perusahaan startup tersebut karena 2 tahun terbuang. Yah, setidaknya tidak terbuang percuma karena startup tersebut dapat banyak ilmu dan pengalaman. Namun, kembali ke “ide” startup tersebut, berhasil atau tidak? Tidak. Antara karena telat memulai atau malas mencari ide lain. Nah dua alasan ini yang berkaitan erat dengan judul artikel ini.

Telat memulai

Kenapa bisa telat memulai? Karena ikut-ikutan atau eksekusinya keduluan pesaing? Inilah pentingnya riset. Budaya riset di Indonesia masih lemah sekali, makanya cenderung menjadi pengekor saja. Padahal kalau riset dilakukan secara serius, suatu perusahaan bisa memilih ide yang tepat untuk dieksekusi, kapan mulai dieksekusi, dan bagaimana cara mengeksekusinya. Bagaimana caranya riset? Banyak sekali, tak terhitung. Mulai dari yang sederhana: ngobrol dengan calon konsumen, warga sekitar, sampai yang rumit: menggunakan data kuantitatif dari berbagai sumber informasi.

Malas mencari ide lain

Ya, dengan kata lain: malas untuk riset. Entah karena dirasa membuang waktu, butuh banyak resource, atau memang malas saja. Jadinya “ikut-ikutan” ide orang lain yang sudah lebih dulu. Mengeksekusi ide orang lain dengan cara sendiri memang seringkali bisa mengalahkan pesaing yang sudah lebih dulu eksis. Tapi sekali lagi, ini relatif, kalau dijalankan dengan luar biasa sungguh-sungguh, bisa saja jadi market leader mengalahkan pesaing bahkan pencetus idenya (yang pertama kali membuat).

Hanya saja, perlu dilihat juga kondisi pesaingnya. Kalau skalanya sudah sangat besar plus modal miliaran dolar, perlu dipikir lagi (untuk jadi pesaing). Kalaupun jadi pesaingnya, tetap harus ada produk/layanan yang unik agar tidak dilindas “pemain besar”. Produk/layanan tersebut tentunya bisa dengan mudah ditiru oleh “pemain besar” tadi. Lalu bagaimana? Buat lagi produk/layanan baru. Begitu seterusnya, inovasi harus jalan terus. Kalau tidak, bakal ditinggalkan konsumen. Apa contoh nyatanya? Bisnis e-commerce.

Oke, jadi itu saja pembahasannya. Jadi, ide ini baiknya riset dahulu atau meniru yang sudah ada (ikut-ikutan)? Tergantung selera. Masing-masing punya risikonya sendiri-sendiri. Kalau riset dulu, butuh banyak resource dan juga ada unsur gambling karena intinya memprediksi ide apa yang kira-kira bagus di tahun tertentu, supaya tidak telat memulai. Kalau ikut-ikutan, risikonya “diledek” oleh waktu atau dilindas “pemain besar.” Kembali lagi ke karakter sang founder itu sendiri.

Sekian dan terima kasih 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s